Materi SEMESTAKU – unduh
Kunjungan Bapak dan Ibu dari Kemantren Mantrijeron
Pada hari rabu, 29 April 2026 pukul 09.30 sekolah kami dikunjungi Bapak dan Ibu dari Kemantren Mantrijeron dalam rangka silaturrohim dan survei kegiatan belajar mengajar (KBM) di TPA PG TK IT Mekar Insani. Anak anak TPA PG menyambutnya dengan riang gembira atas kehadiran bapak dan ibu dari kemantren.
Kegiatan Belajar Bersama Mekar Insani
Dalam rangka mendukung Program 13 Tahun Wajib Belajar serta memperkuat peran PAUD sebagai fondasi awal pendidikan anak, TK IT Mekar Insani berinisiatif menyelenggarakan kegiatan “Belajar Bersama Mekar Insani” yang ditujukan bagi anak usia dini di wilayah Kemantren Mantrijeron. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun semangat belajar anak dari usia 2 tahun s/d 6 tahun, selain itu mengenalkan suasana sekolah (trial class) bagi yang belum pernah belajar di sekolah dan tentunya juga mempersiapkan mental anak untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. kegiatan ini juga mempererat silaturahim dengan pendidik dan warga sekitar serta memperkuat sinergi PAUD se kemantren Mantrijeron. Kegiatan Belajar Bersama Mekar Insani dilaksanakan setiap pekan pada Hari Jumat pukul 15.30 s/d 16.30 di gedung TK IT Mekar Insani. Kegiatan ini sasaranya adalah anak- anak PAUD usia 2 tahun s/d 6 tahun dengan kouta 20 anak per tatap muka. Dan fasilitas pembelajarannya panitia menyiapkan berbagai jenis APE sesuai tema kegiatan di setiap pekannya.Alhamdulilah kegiatan ini sangat diminati oleh masyarakat setempat baik dari lembaga Satuan PAUD Sejenis (SPS) maupun personal, dan tentunya kegiatan ini FREE tidak dipungut biaya.
Mekar Insani Smart Start
Kegiatan PPL di Taman Edukasi Lalu Lintas
Peran Kebijakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dalam Peningkatan Kesehatan Anak Usia Dini
Oleh : Maya Veri Oktavia*) Setiap 25 Januari, Hari Gizi Nasional mengingatkan kita akan pentingnya pemenuhan gizi yang seimbang untuk mewujudkan generasi yang sehat dan berdaya saing. Tahun 2025 menjadi momentum penting untuk merefleksikan upaya kita dalam menangani masalah gizi, seperti stunting dan malnutrisi, yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menunjukkan bahwa Indonesia mengalami penurunan angka stunting sebesar 2,8% dari tahun 2021 hingga 2022. Capaian ini sesuai dengan target yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan, yaitu penurunan sekitar 2,7% setiap tahunnya, dengan harapan mencapai penurunan stunting sebesar 14% pada tahun 2024.(https://www.kemdikbud.go.id) Meskipun demikian, tantangan dalam perbaikan gizi anak usia dini masih signifikan. Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi gizi kurang pada anak usia dini mencapai 13,8%, menunjukkan bahwa masalah gizi masih menjadi perhatian serius di Indonesia. (https://upk.kemkes.go.id) Pada tahun 2025 ini, perhatian tertuju pada upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan anak usia dini melalui berbagai kebijakan strategis. Salah satunya adalah program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” yang diperkenalkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Program ini dirancang untuk membentuk karakter dan kebiasaan positif pada anak sejak dini, yang diharapkan dapat berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kesehatan dan gizi mereka. Kebijakan “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” mencakup: 1) Bangun pagi, 2) Beribadah, 3) Berolahraga, 4) Makan sehat dan bergizi, 5) Gemar belajar, 6) Bermasyarakat, dan 7) Tidur cepat. Ketujuh kebiasaan ini tidak hanya relevan dalam membentuk karakter anak, tetapi juga memberikan dampak signifikan pada kesehatan fisik, mental, dan sosial anak usia dini. Makan Sehat dan Bergizi: Fondasi Kesehatan Anak Kebiasaan makan sehat dan bergizi menjadi inti dari upaya peningkatan gizi nasional. Anak usia dini membutuhkan asupan nutrisi seimbang yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral untuk mendukung tumbuh kembang optimal. Dengan menanamkan kebiasaan makan bergizi sejak dini, anak belajar mengenal jenis makanan sehat yang dapat mencegah stunting, obesitas, maupun gangguan gizi lainnya. Namun, kebiasaan makan sehat tidak dapat berdiri sendiri. Ia harus didukung oleh kebiasaan lain, seperti tidur cukup dan olahraga teratur, untuk memastikan penyerapan nutrisi berjalan maksimal. Hal ini menunjukkan pentingnya pendekatan multidimensional dalam membangun kesehatan anak. Kebiasaan bangun pagi dan tidur cepat sangat penting untuk mengatur ritme sirkadian, yakni jam biologis tubuh yang memengaruhi energi dan fungsi organ. Anak-anak yang memiliki pola tidur teratur cenderung lebih sehat secara fisik dan emosional, karena tubuh memiliki waktu yang cukup untuk memperbaiki sel-sel tubuh dan mengoptimalkan pertumbuhan. Tidur cukup juga berkorelasi dengan kemampuan belajar dan konsentrasi anak. Oleh karena itu, kebiasaan ini berperan besar dalam mendukung anak untuk aktif di siang hari, baik dalam bermain, belajar, maupun melakukan aktivitas fisik. Aktivitas fisik, seperti olahraga, bukan hanya memperkuat otot dan tulang anak, tetapi juga meningkatkan metabolisme tubuh dan daya tahan terhadap penyakit. Kebiasaan ini perlu dikombinasikan dengan aktivitas sosial yang melibatkan interaksi dengan teman sebaya dan lingkungan. Bermain bersama dan bersosialisasi membantu anak mengembangkan keterampilan sosial, empati, dan rasa tanggung jawab. Melalui olahraga dan bermasyarakat, anak juga diajarkan untuk menghormati perbedaan, bekerja sama, dan menjaga kesehatan lingkungan. Ini adalah langkah awal untuk membentuk generasi yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Sinergi Kebijakan dan Harapan di Masa Depan Kebijakan “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” merupakan langkah strategis yang komprehensif dalam upaya meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan anak usia dini di Indonesia. Hari Gizi Nasional 2025 mengingatkan kita bahwa perbaikan gizi anak adalah tanggung jawab bersama yang memerlukan sinergi dari berbagai pihak. Kebijakan “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” memberikan panduan yang konkret untuk menciptakan pola hidup sehat sejak dini. Namun, keberhasilan kebijakan ini memerlukan komitmen bersama antara pemerintah, masyarakat, dan orang tua. Orang tua harus menjadi teladan dalam menerapkan kebiasaan sehat, seperti menyajikan menu bergizi, mengajak anak bermain di luar rumah, dan membangun rutinitas harian yang teratur. Sekolah juga memiliki peran penting sebagai mitra strategis dalam menerapkan kebiasaan ini. Dengan program edukasi kesehatan, penyediaan makanan sehat di kantin, dan kegiatan olahraga rutin, sekolah dapat menjadi ruang yang kondusif bagi anak untuk tumbuh sehat dan bahagia. Dengan mengintegrasikan kebiasaan ini ke dalam keseharian anak, kita tidak hanya menciptakan generasi yang sehat secara fisik, tetapi juga kuat secara mental dan sosial. Semoga momentum Hari Gizi Nasional ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperjuangkan hak anak-anak Indonesia agar mendapatkan gizi terbaik dan kebiasaan positif yang akan menjadi bekal mereka di masa depan. Pemberian Nutrisi tepat dan penerapan kebiasaan hidup sehat melalui kebijakan “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” tentunya akan menguatkan komitmen bersama demi wujudkan masa depan generasi emas Indonesia. Maya Veri Oktavia*), Anggota Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta dan Praktisi PAUD di lembaga pendidikan Mekar Insani Yogyakarta.
TBM Mekar Insani Gelar Pelatihan Penguatan Komunitas Literasi untuk Aksi Nyata dan Berkelanjutan
Yogyakarta, 12 Oktober 2024 – Komunitas literasi TBM Mekar Insani kembali menggelar kegiatan inspiratif melalui Pelatihan Penguatan Komunitas Literasi dengan tema “Membangun Komunitas Literasi yang Berkelanjutan: Dari Pengelolaan ke Aksi Nyata.” Kegiatan ini berlangsung di ruang pertemuan PAUD Mekar Insani, Suryodiningratan, Mantrijeron, Yogyakarta, dengan diikuti oleh 35 peserta yang terdiri dari pendidik PAUD, pengelola TBM, pegiat kampung baca, dan masyarakat umum. Istimewanya, peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Yogyakarta, tetapi juga dari komunitas literasi Jawa Timur, yakni Lamongan, Sidoarjo, dan Batu Malang. Pelatihan ini bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan komunitas literasi yang berkelanjutan, serta mendorong aksi nyata dalam masyarakat. Para peserta diajak untuk membangun strategi komunitas yang solid dan menumbuhkan budaya literasi sebagai pondasi yang penting bagi pendidikan dan kesadaran lingkungan. Topik yang diusung dalam pelatihan ini menitikberatkan pada penerapan strategi pengelolaan yang efektif dan langkah-langkah praktis dalam mengeksekusi program literasi di tengah masyarakat. Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Maya Veri Oktavia, pengelola TBM Mekar Insani yang menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh dari pemerintah melalui program Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbudristek. Bantuan ini memungkinkan penyelenggaraan pelatihan yang menyatukan pegiat literasi dari berbagai daerah, memperluas jaringan, dan memperkuat kolaborasi antar komunitas. Materi pelatihan disampaikan oleh fasilitator yang berpengalaman dalam bidang literasi dan manajemen komunitas, yakni David Effendi dari Rumah Baca Komunitas (RBK), Indra Suryanto dari kampung sains Karangkajen dan Herry Krishnamurti dari organisasi Forum TBM Kota Yogyakarta yang membahas berbagai aspek pengelolaan, mulai dari cara mengidentifikasi kebutuhan komunitas hingga mengembangkan program literasi yang relevan dan berdampak jangka panjang. Dalam sesi diskusi dan praktik, peserta diajak untuk menyusun rencana kerja komunitas mereka, berdiskusi tentang tantangan yang sering dihadapi, serta menemukan solusi dan inovasi yang dapat diterapkan dalam komunitas masing-masing. Dengan semangat kolaborasi, peserta dari berbagai kota pun berbagi cerita sukses dan tantangan yang mereka hadapi dalam menggerakkan literasi di daerahnya masing-masing. Kesempatan ini menjadi momentum penting untuk saling belajar, bertukar pengalaman, dan menginspirasi satu sama lain dalam meningkatkan budaya literasi di berbagai lapisan masyarakat. Pelatihan Penguatan Komunitas Literasi ini ditutup dengan komitmen bersama untuk terus memperkuat kolaborasi dan mengembangkan program-program literasi yang bermanfaat dan inklusif. Para peserta berharap kegiatan seperti ini dapat rutin dilaksanakan, agar komunitas literasi di berbagai daerah semakin kuat dan berkembang dengan dukungan jaringan yang solid. TBM Mekar Insani berhasil memberikan wadah pembelajaran dan berbagi yang bermanfaat bagi pegiat literasi dari berbagai daerah, sekaligus memperkuat perannya sebagai komunitas literasi yang inspiratif dan berdaya dalam masyarakat. (MVO*) *) Maya Veri Oktavia, Penggagas Gerakan Cinta Buku Sejak Dini dan pengelola TBM Mekar Insani yogyakarta
Mendorong Kreativitas untuk Menghidupkan Literasi Anak melalui Pelatihan Menulis Cerita Anak
Yogyakarta, 5 Oktober 2024 – Pada Sabtu, 5 Oktober 2024, TBM Mekar Insani sukses menyelenggarakan pelatihan Menulis Cerita Anak yang dihadiri oleh 30 peserta. Pelatihan ini diikuti oleh pendidik PAUD, pengelola TBM, penggerak kampung baca, dan masyarakat umum, yang semuanya berkumpul di ruang pertemuan PAUD Mekar Insani di kompleks TBM Mekar Insani, Suryodiningratan MJ 2/726 I, Mantrijeron, Yogyakarta. Berkat dukungan dari program bantuan pemerintah melalui Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek tahun 2024, pelatihan ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan menulis cerita yang kreatif dan mendukung literasi anak di tingkat komunitas. Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh ketua panitia yang menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan langkah nyata dalam meningkatkan kualitas literasi anak melalui cerita. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan peserta bisa terinspirasi untuk membuat cerita-cerita anak yang edukatif dan menghibur. Sesi pelatihan dimulai dengan pemaparan materi pertama oleh Yuniar Khairani, yang menjelaskan langkah-langkah penting dalam menulis cerita anak. Materi mencakup teknik penulisan cerita yang mencakup elemen-elemen cerita ideal, alur cerita, dan cara menciptakan karakter yang menarik bagi anak-anak. Peserta diberi wawasan tentang pentingnya pesan moral dalam cerita serta bagaimana menyampaikannya secara sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca muda. Sesi materi kedua disampaikan oleh Hafizh Nurul Faizah, yang membahas tentang penulisan buku bergambar untuk anak. Hafizh menjelaskan bahwa buku bergambar tidak hanya menarik dari segi visual, tetapi juga efektif dalam membantu anak memahami cerita. Peserta diajak untuk menyusun lesson plan atau rencana penulisan yang mencakup penjenjangan buku, pemilihan kata, dan tips menulis cerita anak yang efektif. Setelah pemaparan materi, peserta terlibat dalam sesi diskusi interaktif, berbagi pengalaman, dan mendapatkan tanggapan dari narasumber. Diskusi ini menghasilkan banyak gagasan segar tentang cara mendekati penulisan cerita anak yang kreatif dan relevan dengan perkembangan anak. Kegiatan dilanjutkan dengan praktik kelompok, di mana peserta diberi kesempatan untuk membuat konsep cerita bergambar berdasarkan lesson plan yang telah dibahas. Selama sesi praktik, peserta dibimbing oleh narasumber untuk memastikan hasil karya sesuai dengan tujuan dan menarik bagi anak-anak. Pelatihan diakhiri dengan post-test dan sesi penutupan. Hasil dari pelatihan ini menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta dalam menulis cerita anak. Para peserta mengungkapkan antusiasme mereka untuk mulai menciptakan cerita anak yang inspiratif dan mendukung literasi di lingkungan mereka masing-masing. Dengan pelaksanaan pelatihan ini, TBM Mekar Insani berharap peserta dapat menjadi agen literasi anak yang aktif, menginspirasi generasi muda untuk mencintai membaca dan belajar melalui cerita. Program ini merupakan langkah penting dalam mendukung ekosistem literasi di Yogyakarta, yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan literasi anak-anak di berbagai komunitas(MVO*) *) Maya Veri Oktavia, Penggagas Gerakan Cinta Buku Sejak Dini dan pengelola TBM Mekar Insani
TBM Mekar Insani Mendukung Literasi Digital di Kalangan Penggerak Literasi
Yogyakarta, 4 Oktober 2024 – TBM Mekar Insani sukses menggelar pelatihan bertema Pengelolaan Buku Digital pada Jumat, 4 Oktober 2024, bertempat di ruang pertemuan PAUD Mekar Insani di kompleks TBM Mekar Insani, Suryodiningratan MJ 2/726 i, Mantrijeron. Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta, termasuk pendidik PAUD, pengelola TBM, penggerak kampung baca, serta masyarakat umum, sebagai bagian dari upaya memperkuat keterampilan literasi digital di lingkungan pendidikan dan komunitas literasi. Pelatihan ini terselenggara atas dukungan dari Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek melalui program bantuan pemerintah untuk komunitas penggerak literasi tahun 2024. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai buku digital dan cara pengelolaannya, sehingga para peserta dapat memanfaatkannya untuk memperkaya koleksi bacaan di komunitas masing-masing. Dalam sambutannya, ketua panitia dari TBM Mekar Insani menyampaikan bahwa pelatihan ini diadakan sebagai respons terhadap perubahan tren membaca yang kini merambah dunia digital dan untuk memperkuat kemampuan komunitas literasi di Yogyakarta dalam memanfaatkan teknologi. Dua narasumber utama, yaitu Eko Kurniawan dan M. Syaiful Bahri, membawakan materi yang menarik dan interaktif. Eko Kurniawan memaparkan topik tentang buku digital dan teknik pengolahannya. Dalam materinya, Eko membahas manfaat buku digital sebagai solusi untuk menghadirkan bacaan yang lebih mudah diakses dan praktis. Peserta diajak memahami proses dasar pengelolaan buku digital dan berbagai aplikasi pendukung. Sesi kedua disampaikan oleh M. Syaiful Bahri, yang menjelaskan tentang evolusi membaca di era digital serta cara-cara untuk memanfaatkan buku digital guna menunjang kegiatan literasi di komunitas. Para peserta diajak untuk berdiskusi dan menyampaikan ide-ide tentang cara mengaplikasikan buku digital sesuai dengan kebutuhan komunitas mereka. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktik kelompok, di mana peserta memilih dan mengelola beberapa judul buku digital yang nantinya bisa diakses oleh anak-anak dan anggota masyarakat di komunitas masing-masing. Sesi ini juga diisi dengan diskusi mengenai pemilihan konten buku digital yang relevan dan menarik bagi pembaca dari berbagai usia. Setelah melakukan praktik dan diskusi, pelatihan diakhiri dengan post-test untuk mengevaluasi pemahaman peserta mengenai materi yang disampaikan. Para peserta merasa senang dan terbantu dengan pelatihan ini, mereka mengaku bahwa keterampilan yang diperoleh akan sangat bermanfaat dalam mendukung kegiatan literasi di komunitas mereka. Dengan pelaksanaan pelatihan ini, TBM Mekar Insani berharap agar para peserta dapat memanfaatkan teknologi buku digital untuk memperkaya koleksi bacaan dan menarik minat baca masyarakat, khususnya di lingkungan pendidikan PAUD, kampung baca, dan TBM. Program ini menjadi salah satu langkah nyata untuk membangun ekosistem literasi digital di Yogyakarta, yang diharapkan dapat memperkuat budaya literasi di kalangan anak-anak hingga dewasa di era teknologi.(MVO*) *) Maya Veri Oktavia, penggagas Gerakan Cinta Buku sejak Dini, dan pengelola TBM Mekar Insani
Festival Cerita Anak TBM Mekar Insani: Dari Sampah Jadi Karya, Dari Limbah Jadi Cerita
Minggiran, Yogyakarta – 29 September 2024 – Festival Cerita Anak yang diselenggarakan oleh TBM Mekar Insani di lapangan publik Minggiran berlangsung meriah dengan tema inspiratif, “Dari Sampah Jadi Karya, Dari Limbah Jadi Cerita.” Acara ini diikuti oleh 100 peserta dari berbagai kalangan, termasuk anak-anak, pendidik PAUD, pengelola TBM, pegiat kampung baca, dan masyarakat umum. Festival ini menawarkan pengalaman literasi yang unik melalui lomba read aloud dan lomba fashion show berbahan daur ulang, yang menggabungkan nilai-nilai kreatif dan edukatif dalam menyampaikan pesan peduli lingkungan. Acara dibuka oleh Bapak Mantri Pamong Praja Kemantren Mantrijeron, yang mengajak para hadirin untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah dalam kehidupan sehari-hari melalui sebuah quote yang beliau tulis langsung di hadapan para peserta. Pesan tersebut sejalan dengan tema besar festival ini, yang menekankan pentingnya daur ulang dan pemanfaatan kembali limbah sebagai bagian dari kesadaran lingkungan. Festival ini juga dihadiri oleh tamu undangan dari berbagai kalangan, termasuk perwakilan dari dinas pemerintah, organisasi masyarakat, dan pejabat daerah setempat, yang menunjukkan dukungan luas bagi kegiatan literasi dan kesadaran lingkungan di Yogyakarta. Tidak hanya itu, kehadiran perpustakaan keliling PUSPITA menambah daya tarik acara, dengan gelaran pustaka yang menyajikan koleksi buku yang beragam, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk membaca dan menikmati literasi di ruang terbuka. Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang acara. Dalam lomba read aloud, peserta dari berbagai usia dengan semangat membacakan cerita pilihan mereka di hadapan penonton. Kegiatan ini tidak hanya mengasah kemampuan membaca anak-anak tetapi juga menumbuhkan keberanian dan kreativitas dalam menyampaikan cerita. Lomba fashion show daur ulang yang diikuti oleh anak-anak pun menjadi sorotan utama, di mana peserta tampil percaya diri dengan mengenakan busana yang dibuat dari bahan daur ulang. Kreasi mereka menampilkan ide-ide yang tak hanya unik, tetapi juga menginspirasi untuk memanfaatkan sampah menjadi karya seni. Anak-anak PAUD dari wilayah Kemantren Mantrijeron turut memeriahkan suasana melalui pertunjukan seni yang menyentuh hati. Penampilan mereka memperlihatkan ekspresi kreatif sekaligus dukungan pada nilai-nilai yang diangkat dalam festival ini. Kehadiran mereka semakin memperkaya festival, menyampaikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa diajarkan sejak dini. Acara ini terlaksana berkat bantuan pemerintah yang mendukung komunitas literasi melalui program dari Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbudristek, tahun 2024. Dukungan ini memungkinkan TBM Mekar Insani untuk menyelenggarakan kegiatan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan edukasi berharga tentang literasi dan kepedulian lingkungan kepada masyarakat. Melalui Festival Cerita Anak ini, TBM Mekar Insani berhasil menunjukkan bahwa literasi dan lingkungan adalah dua hal yang saling terkait. Acara ini tidak hanya menjadi ajang kreativitas dan edukasi, tetapi juga langkah kecil menuju perubahan besar, di mana anak-anak dan masyarakat diharapkan lebih terlibat aktif dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik dan berkelanjutan (MVO*) *) Maya Veri Oktavia, Penggagas Gerakan cinta buku sejak dini, Pengelola TBM Mekar Insani yogyakarta









